Berita

Impian sang "Inovator Cilik"

28 Januari 2013   |   CR News

Tangan terampil Yohana Ykwa (14) dan Albertina Beanal (14) dengan cekatan merangkai satu demi satu komponen dan rangkaian kabel untuk membuat robot "Imagine". Raut muka mereka tampak bersemangat dan sesekali terdengar gumaman ketika rangkaian yang mereka sambungkan tidak menyala. Itulah keseharian Yohana dan Albertina ketika sedang mengikuti kelas robotik di Surya Research Education Center (SuRe), yayasan pendidikan yang dipimpin Profesor Yohanes Surya, berlokasi di Serpong, Tangerang, Banten. Tak jauh dari kelas robotik, ada ruang kelas yang para siswanya sedang mengikuti ujian. Salah satu peserta ujian tersebut adalah Nikolaus Taote (12 tahun). Albertina, Nikolaus dan Yohana adalah anak-anak dari Suku Amungme dan Kamoro di Kabupaten Mimika, Papua yang merupakan penerima beasiswa pendidikan dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme & Kamoro (LPMAK), berkantor di Timika, Papua dan merupakan pengelola "Dana Kemitraan Freeport untuk Pengembangan Masyarakat".

Ketiga anak-anak manis dari Mimika itu adalah para siswa yang terpilih melalui seleksi pelajaran matematika, membaca dan menulis, untuk kemudian dikirim belajar ke SuRe, untuk dibina menjadi pelajar-pelajar yang genius. Prestasi dari ketiga siswa SD dari Kabupaten Mimika, Papua, tersebut merupakan gebrakan luar biasa.

Keseharian Albertina, Yohana & Niko

Jam 5 pagi saat anak seusia Albertina, Yohana dan Niko, di Timika, masih lelap tertidur, Albertina dan teman-temannya yang tinggal di Asrama SuRe sudah bersiap bangun untuk melakukan ibadah pagi. Dengan tertib mereka melakukan ibadah pagi di kamar masing-masing yang dipimpin oleh salah satu orang di antara mereka. "Awalnya saya malas sekali harus bangun pagi dan mandi," dengan polos Albertina bercerita tentang pengalamannya pertama kali masuk asrama.

Namun sekarang, jauh sekali berbeda. Secara teratur ia bangun pagi tepat waktu, membangunkan teman sekamarnya untuk ibadah pagi dan bersiap untuk sekolah. Dari pukul tujuh pagi hingga pukul tiga sore mereka menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah. Ia menghabiskan delapan jam untuk belajar. Pelajaran favorit Albertina adalah Bahasa Inggris. Ketika ditanya alasannya, ia malah ketawa…"suka saja," jawabnya dengan polos. Sementara si kecil Niko suka dengan semua mata pelajaran ilmu pasti seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Awalnya mereka masih sulit menghitung, namun dengan pelatihan lewat Matematika Gasing (Gampang Mengasyikkan) yang digagas Prof. Yohanes Surya, anak-anak Papua tersebut mampu menunjukkan prestasi. Menurut salah satu guru pembimbing Dr. Riza Muhida, dalam satu tahun pertama siswa Papua tersebut hanya belajar matematika karena matematika adalah kunci berpikir, kunci untuk membuka otak agar mudah menyerap pelajaran lainnya seperti Sains, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.


Ketekunan dan keinginan yang kuat untuk maju yang mendorong Albertina, Yohana dan Niko – dikenal dengan mutiara cilik Papua ini-, rela meninggalkan kampung halamannya nun jauh di Timur Indonesia, berpisah dengan kedua orang tua dan kakak adik, untuk tinggal di asrama. Kehidupan asrama yang serba teratur awalnya membuat mereka serta teman-teman dari Papua yang lain sulit untuk beradaptasi. Namun berkat kegigihan, kesabaran dan bimbingan dari para guru pendamping serta ibu asrama maka tak perlu waktu lama, mereka pun terbiasa.

"Saya suka sekali tinggal di sini, senang… karena banyak teman. Gurunya baik-baik, bisa lebih fokus belajar karena jarak sekolah dan tempat tinggal dekat, pelajarannya bagus dan menyenangkan." Dengan polos mereka berebut menjawab ketika ditanya bagaimana kesannya tinggal di asrama dan jauh dari orang tua.

Kecintaan Albertina, Yohana dan Niko akan ilmu pengetahuan membuat mereka terus bermimpi, seperti Albertina yang ingin melanjutkan pendidikanya ke luar negeri, sehingga dia bertekad untuk belajar Bahasa Inggris lebih tekun, Yohana bercita-cita menjadi seorang guru, sedangkan Niko setelah nantinya berhasil menempuh pendidikan di Jakarta ingin kembali berbakti membangun Papua.

Ketiga mutiara dari Papua tersebut adalah salah satu contoh anak-anak dari Kabupaten Mimika yang mendapat beasiswa dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) melalui dana Kemitraan PT Freeport Indonesia, untuk belajar di Surya Research Education Center (SuRe). Selain mereka bertiga, 17 siswa SD-SMP lainnya yang menimba ilmu di sini. SuRe yang terletak di Summarecon Serpong, Tangerang, Banten ini, didirikan oleh Profesor Yohanes Surya pada tahun 2010. Profesor Yohanes Surya memiliki minat mendidik dan membina anak-anak Papua yang terbelakang. Ia kerap berkunjung ke daerah terpencil di Papua dan memilih anak yang paling bodoh yang ia temui untuk ia bina di Surya Institute. Dengan metode GASING (Gampang, Asyik & Menyenangkan) ia bersama guru pembimbing yang ada di Surya Institute melatih dan membina anak-anak tersebut untuk bisa dan mampu seperti anak-anak Indonesia lainnya.

Keberadaan para pelajar dari Papua di Surya Research Education Center, yang jauh dari Papua adalah upaya bersama LPMAK dengan menggunakan dana dari Freeport Indonesia serta dukungan dari Pemerintah Kabupaten Mimika, untuk mensejajarkan kualitas pendidikan mereka dengan para pelajar dari provinsi lain di Indonesia. Bahkan, diyakini kemampuan mereka akan lebih baik mengingat pendidikan di Surya Institute dijalani mereka dengan kerja keras dan keprihatinan karena jauh dari kampong halaman.


Yohana Ykwa
Juara Ke 1 Lomba Robot Favorit, dalam Indonesia Information and Communication Technology Award 2011 (INAICTA) - penghargaan tingkat nasional untuk produk-produk inovasi terbaik di bidang Information and Communication Tecnology (ICT) yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, tahun 2011. Juara ke 3, Lomba Applicative Robot dalam Indonesia ICT Award (INAICTA), tahun 2011.

Albertina Beanal
Juara 1, Tingkat SMP, dalam lomba Robot Imagine Ristek 2012 dari Kementerian Riset dan Teknologi Juara Ke 1 Lomba Robot Favorit, dalam Indonesia Information and Communication Technology Award 2011(INAICTA) - penghargaan tingkat nasional untuk produk-produk inovasi terbaik di bidang Information and Communication Tecnology (ICT) yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, tahun 2011. Juara ke 3, Lomba Applicative Robot dalam Indonesia ICT Award (INAICTA), tahun 2011. Juara Technical Award, dalam kategori Creative Robot dalam International Robot Olympiad tahun 2011.

Nikolaus Taote
Mendapatkan medali perak dalam Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary Schools (ASMOPS) 2011. Olimpiade Matematika dan Sains untuk siswa SD se-ASIA yang diikuti oleh 113 peserta dari tiga Negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Berita Terkait

Pelatihan Penambangan di US Untuk Pengembangan Karyawan Papua
Mengubah Kehidupan Banyak Orang di Papua
Cezia Greatia Pesurnay: Kalau Saya Bisa, Percayalah Kalian juga Pasti Bisa
Berlatih di Atas Awan

Nilai Nilai PTFI

Kami mempunyai komitmen untuk memberi kontribusi positif bagi masyarakat di manapun kami melakukan kegiatan.

Selengkapnya