PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Universitas Negeri Papua (UNIPA) menyelenggarakan simposium mengenai pengelolaan pasir sisa tambang (tailing) yang dihadiri oleh wakil dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mimika dan Badan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua. Simposium yang berlangsung di Hotel Rimba Papua (17-19/11) ini bertujuan untuk memberikan informasi tangan pertama dan mutakhir mengenai program pengelolaan tailing PTFI. Penyelenggaraan Simposium tahunan dengan topik terkait rencana penutupan tambang merupakan bagian dari kesepakatan antara kedua institusi yang ditandatangani tahun 2006. Simposium pertama mengenai Manajemen Overburden dan Air Asam Tambang PTFI telah dilaksanakan pada bulan Juni 2008.
Manajer Lingkungan PTFI Andi Mukhsia berharap agar Simposium dapat menerima masukan dari para pemangku kepentingan, terutama dari kalangan universitas, untuk berbagai perencanaan lingkungan dan sosial PTFI. "Para pemangku kepentingan merupakan komponen penting dalam memperbaharui dokumen-dokumen yang ada, sehingga bahan-bahan tersebut dapat diterapkan dan dipergunakan dalam rencana penutupan tambang," katanya.

"Banyak hal yang dapat dihasilkan melalui simposium. Kerjasama-kerjasama yang ada hendaknya dipublikasikan agar khalayak luas memahaminya," kata Ir. Alex Yaku MSc dari UNIPA. Alex berharap agar PTFI dapat terus menyumbangkan devisa bagi negara dan manfaat bagi masyarakat, selain memberikan informasi kepada masyarakat luas.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan informasi mengenai program pengelolaan tailing dan lingkungan yang disampaikan oleh Konsultan Lingkungan PTFI Wisnu Susetyo, General Superintendent TRMP Engineering Didiek Subagyo, Superintendent ARD & Tailing Geochemistry Guritno Prasetyo, General Superintendent Environment Monitoring Gesang Setyadi, Superintendent Biodiversity Pratita Puradyatmika, Superintendent Reclamation, Research & Development Robert Sarwom dan Manajer Environmental Department Andi Mukhsia.

Para peserta mendapat kesempatan mengunjungi daerah pengendapan tailing, daerah reklamasi di MP21 dan Pusat Keanekaragaman Hayati di MP22. Dalam diskusi penutup, para peserta menyampaikan komentar positif mengenai program pengelolaan tailing PTFI dan menyetujui beberapa kesimpulan, di antaranya adalah; 1) Program pemanfaatan tailing agar terus dilanjutkan dan diperluas, 2) PTFI agar meningkatkan pelaksanaan sosialisasi tentang pengelolaan tailing ke kampus-kampus guna memberikan informasi yang mutakhir dan akurat, 3) Pengetatan standar TSS (Total Suspended Solids) akan menjadikan tanggul lebih tinggi pada akhir masa tambang. Sebaiknya standar TSS justru diperlonggar untuk menghindari potensi resiko kestabilan tanggul pada masa pascatambang, 4) Keberlanjutan pembangunan Mimika seiring dengan berakhirnya masa tambang perlu menjadi perhatian utama dari sekarang. Untuk itu, Pemerintah serta swasta dihimbau untuk mengembangkan sektor non-tambang, dan 5) Program Keanekaragaman Hayati PTFI agar terus dikembangkan bekerja sama dengan LSM dan pemerintah untuk konservasi keanekaragaman hayati Mimika.
Dalam kesempatan berbeda, Prof. Dr. Supriharyono dari Universitas Diponegoro menyampaikan bahwa simposium tersebut memberikan manfaat yang sangat baik bagi para peserta. "Pada kenyataannya tailing itu tidak berbahaya dan beracun," katanya. Lebih lanjut Prof. Supriharyono mengatakan, "Hasil simposium dan penelitian-penelitian tentang tailing yang ada hendaknya disebarluaskan kepada masyarakat agar mereka juga mengerti. Kami juga akan menyebarkan informasi ini," sarannya.(bw & sm)

