Terobosan baru telah dibuat tim manajemen Mine Maintenance PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan tersedianya air layak minum bagi karyawan sekitar area Mega Shop Grasberg. Air minum ini bersumber dari air hujan yang ditampung dalam tangki khusus dan kemudian diolah dengan teknologi filtrasi, reverse osmosis dan ozonisasi sehingga bersih, sehat dan layak minum. Karyawan tinggal mengisikan air ini ke dalam termos, gelas atau botol minum dan juga dapat membuat kopi hangat langsung di sekitar instalasi.

Sistem pengolahan air minum ini dibuat oleh sebuah kontraktor lokal dan dipasang serta dioperasikan oleh tim dari Mine Maintenance. Rahimuddin, salah satu penanggung jawab fasilitas ini menyatakan bahwa pengoperasian sistem pengolahan air ini cukup sederhana dan mudah dioperasikan. Ketika ditanyakan tentang biaya pembuatan sistem pengolahan air ini (water treatment system) kepada Pieter Sibarani selaku Manager Mine Maintenance PTFI, beliau mengatakan bahwa proyek ini dapat terwujud dengan biaya yang rendah untuk pembelian sistem filtrasi, reverse osmosis, ozonisasi, alat pelengkap serta biaya pemasangannya.
Dahulu para karyawan harus mencari air minum dalam kemasan (AMDK) di setiap kantor masing-masing. Upaya ini dirasakan cukup merepotkan karena harus ada pasokan yang selalu tersedia dan akan sangat bermasalah apabila ada hambatan seperti transportasi dan sistem penyediaan di gudang. Disamping itu, minum dari AMDK juga dapat menghasilkan sampah dalam jumlah cukup besar dan memerlukan proses pengumpulan, pengangkatan dan pembuangan akhir yang membutuhkan biaya besar.

Proyek ini sangat berdampak positif bagi lingkungan karena beberapa hal berikut ini: Yang pertama, mengurangi jumlah timbulan sampah dari AMDK (waste generation), mengurangi carbon footprint perusahaan karena setiap bulan kita harus mentransportasikan sekitar 30 kontainer AMDK untuk konsumsi karyawan di seluruh Jobsite. Belum lagi ada informasi yang menyatakan bahwa untuk membuat satu botol plastik AMDK diperlukan setidaknya 3 liter air, diperlukan bahan bakar, material dan biaya transportasi sehingga kalau kita mengkonsumsi satu botol AMDK selama setahun maka itu identik dengan kita melepaskan sekitar 80.000 balon berisi gas CO2 (karbon dioksida) ke udara yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Jadi, selain kemudahan bagi karyawan dari segi akses untuk mendapatkan air minum, proyek ini juga sangat ramah lingkungan dan juga dari segi ekonomis sangat menguntungkan dengan pertimbangan biaya pengiriman AMDK ke Grasberg yang cukup mahal. Diharapkan penerapan sistem seperti ini bisa diperbanyak di area kerja PTFI.
Artikel oleh Krisnan Isomartana, General Superintendent - Environmental Support PTFI.

